Tampilkan postingan dengan label Marissa Haque. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marissa Haque. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2009

Tawa Lebar Timses Ratu Atut Chosiyah Setelah Sukses Besar Menggulung Pasutri Ikang-Marissa



Saya mengirimkan sebuah sms panjang yang isi singkatnya adalah kurang lebih sebagai berikut: "... bahwa jangan pernah kita berhenti bermotivasi hanya karena Allah SWT semata."



Tawa Lebar Timses Ratu Atut Chosiyah Setelah Sukses Besar Menggulung Pasutri Ikang-Marissa, sangat mungkin tak lama lagi akan menjadi tangis pilu yang menusuk hati. Apalagi kalau bukan balasan atas energi jahat yang menggulung mereka sendiri -- hukum kekekalan energi...



Kami semua pastikan bahwa ada yang sedang tertawa lebar atas sukses gemilang timses Ratu Atut Chosiyah Setelah Sukses Besar Menggulung Pasutri Ikang-Marissa dalam Pileg kemarin ini. Namun Gusti Ora Sae, Allah SWT tidak pernah tidur, dan dunia selalu berputar.



Janganlah kita mengaku paling beriman dan paling mengerti bedanya surga dan neraka kalau untuk diri sendiri tidak mampu membedakan harus berkawan dengan siapa agar mampu menjadi Kekasi Allah...

Sabtu, 12 September 2009

Doa Marissa Haque untuk Bella Agar Sepintar Angelina Sondakh, dari FISIP Kom-UI, 2009



Terharu saya mendengar langsung doa seorang Ibu Marissa Haque untuk anaknya yang baru saja lulus dari FIB-UI jurusan Sastra Inggris. Bella atau nama lengkapnya Isabella Muliawati Fawzi sekarang meneruskan kuliahnya di FISIP-UI jurusan Komunikasi. Katanya ia ingin sepintar Tante Angelina Sondakh yang disaat hamil kemarin berhasil menyelesaikan ujian Masternya (MSi) dengan baik.

Semoga ya Bel? Doa dari Tante Nisye disini di Bandung...

Kamis, 10 September 2009

Fernita Darwis Sesama Kader PPP Diduga Calo di KPU atas Hasil Putaran 3 DPR RI: Doaku untuk Marissa Haque

JAKARTA - SURYA- Lama menanti tanpa ada kepastian tindakan, membuat artis yang banting stir menjadi politisi, Marissa Haque, mendatangi lagi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (8/9). Bersama sejumlah caleg yang gagal dalam Pemilu legislatif (Pileg) 2009, Marissa Haque Fawzi didampingi kuasa hukumnya, Dr. H. Eggy Sudjana, SH, MSi. Marissa mempertanyakan soal laporan dugaan politik uang dalam Pileg 2009 yang disampaikan ke KPK dua bulan lalu.

Setelah sempat melakukan protes karena menunggu terlalu lama yakni empat jam, Marissa dan belasan caleg gagal akhirnya difasilitasi untuk bertemu pimpinan KPK

Hari Senin (7/9) lalu, Marissa dan kawan-kawannya sudah menyambangi Mabes Polri. Mereka melaporkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), karena tidak menjalankan putusan Mahkamah Konstitusi (MK). “Kami ingin menanyakan sejauh mana sikap KPK, terhadap laporan kita dua bulan lalu atas jual beli kursi. Seperti kursi saya di PPP seharga Rp1 miliar,” kata caleg PPP dari Dapil Jabar 1 yang meliputi Kota Bandung dan Cimahi.

Marissa Dia mengaku punya alat bukti, yakni rumah mewah baru di Bintaro, Tangerang, milik saksi dari PPP yakni Fernita Darwis. Padahal dengan suami yang pengangguran dan pekerjaannya dari berpolitik, hal itu jadi tanda tanya besar bagi Marissa darimana asal uangnya.


Marissa melaporkan Fernita Darwis dan suaminya Darwis Hamid karena diduga telah melakukan kesepakatan tertentu dengan oknum KPU untuk menjual kursinya senilai Rp1 miliar.Nasib serupa dialami 14 caleg lain dari partai berbeda. Mereka juga menyatakan, kursinya dihargai Rp 1 miliar.

Istri Ikang Fauzi itu juga membeberkan pengalaman nyata suaminya dengan broker kursi legislatif saat Pileg lalu. “Kami merasa dipermainkan dan didzolimi KPU. Selama ini kami merasakan negara tidak melindungi hak konstitusi sebagian warga negaranya,” tambah Icha, sapaannya.

Farouk, caleg gagal dari Partai Hanura juga mengaku jadi korban politik karena terjadi abuse of power. Karena itu dia ikut berjuang mendapatkan keadilan. Selain ke polisi dan KPK, kasus juga sudah dilaporkan ke Mahkamah Konstitusi, tapi belum ada tindak lanjut. jbp/nda

Minggu, 06 September 2009

Telah Lama Marissa Haque Temanku Memaafkan Megawati Soekarnoputri: Tak Ada Dendam, Tak Perlu Membalas



Sumber: www.marissahaque-dulu-pdip.com

Tulisan untuk Majalah Noor 14 Juli 2004
Oleh: Marissa Haque Fawzi



Kecerdasan Linguistik
.
Pada sebuah pertemuan dan pembekalan para kader PDI Perjuangan di Jakarta beberapa waktu berselang, sebagai seorang mahasiswa pasca sarjana Ilmu Linguistik, saya dibuat kagum atas pernyataan ditengah bercanda serius seorang Presiden perempuan—Megawati Soekarnoputri. Beliau mengatakan didalam pidatonya: “…saya lebih suka ketika pasangan hidup saya mengatakan Presiden adalah istri saya, dan bukan sebaliknya istri saya Presiden.” Ini adalah sebuah ekspresi jujur dan spontan yang menunjukkan sebuah kepekaan linguistik, sekaligus juga kesadaran akan jati diri dan pentingnya untuk mengekspresikan kepada publik bahwa seorang perempuan juga sangat-sangat mempunyai kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus menjadi bayang-bayang dari pasangan hidupnya.

Jujur, saya baru mengenal lebih dekat Presiden kelima Republik Indonesia ini baru selang enam bulan belakangan. Sebelumnya saya yang masih sangat-sangat A-politik, lebih mengenal beliau melalui beberapa riset pribadi antara lain melalui melalui berita-berita dimedia cetak, film-film dokumenter Soekarno muda, serta beberapa film dokumenter tentang dirinya pribadi yang banyak beredar di Amerika Serikat (saat saya bersekolah di Ohio University) yang dibuat oleh para independent filmmaker dari dalam dan luar negeri yang menjunjung HAM serta demokrasi. Pada dasarnya saya memang selalu kagum akan energi para wanita yang mempunyai dedikasi pada pekerjaannya dengan adversity quotion yang tinggi. Saya memiliki sekurangnya lima orang role model lokal—Megawati Soekarnoputri, Kofifah Indar Parawansa, Erna Witoelar, Sri Adiningsih, dan Marie Pangestu. Dan dalam kesempatan kali ini saya hanya akan memfokuskan kepada Megawati, karena wanita tangguh yang satu ini sedang bertarung memperebutkan posisi Presiden Republik Indonesia ke enam pada tanggal 5 Juli 2004 yang tidak lama lagi akan berlangsung. Dan juga adalah satu satunya kandidat perempuan calom Preiden Republik Indonesia ke enam.

Biasanya saya bertemu Ibu Mega, begitu biasa saya menyapa beliau, dibanyak tempat dan kesempatan. Beberapa kali di kantor PDI Perjuangan di Lenteng Agung. Kali lainnya dikediaman beliau di jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Beberapa saat yang lalu, saya sangat sering mendampingi didalam kampanye Legislatif. Lamanya pertemuan-pertemuan yang tidak rutin tersebut sangat bervariasi, ada yang cukup lama tapi lebih sering dalam tempo yang singkat dan pendek tapi bermakna. Namun buat saya bukanlah waktu yang penting, namun kualitas pertemuan yang bermakna yang tak dapat kulupakan. Ibu Mega dalam pengamatan saya adalah sosok kontemplatif yang sangat hemat dalam mengkomentari lawan-lawan politiknya. Beliau dapat kita ukur dari setiap frasa serta diksi yang bermakna metaphorical yang selama ini diungkapkan. Bila kita teliti dengan pendekatan ilmu Linguistics, maka kelasanya adalah advance. Mengapa saya berani mengatakan demikian? Karena menjadi asal bunyi itu mudah, akan tetapi “bunyi” yang keluar dari bibir dengan mencapai sasaran tanpa harus “mematikan” secara telak (menunjuk hidung) lawan-lawannya secara diplomatis, hanya dapat dilakukan oleh orang-orang dengan tingkat kepekaan serta kecerdasan yang tinggi. Kita pernah mempunyai seorang pemimpin dengan tangan besi, pemimpin yang suka bicara akan tetapi menimbulkan keresahan sosial, nah dimata saya Presiden perempuan kita sekarang ini adalah seorang manusia dengan karakter dasar hemat bicara terhadap hal-hal yang tidak produktif, dan memilih untuk lebih banyak berbuat (produktif). Hasilnya dapat dilihat dari beberapa pencapaian yang significant hanya didalam pemerintahan yang hanya dua tahun sepuluh bulan saja.

Reaksi Ibu Mega terhadap masalah tenaga kerja Indonesia yang mendapat perlakuan tidak manusiawi di Malaysia (Nirmala Bonat) saya rasakan sebagai langkah yang sangat positif serta menjadi pionir dibandingkan dengan para kandidat Presiden lainnya. Dalam lima program besar Mega-Hasyim yang diusung, didalamnya terdapat undang-undang Buruh Migran yang merupakan langkah proaktif terhadap para penghasil devisa negara terbesar nomor tiga ini. Upaya positif lainnya yang harus disyukuri oleh kita semua adalah one gate policy (kebijakan satu pintu) di Batam, demi untuk mengontrol semua kegiatan yang berkaitan dengan pengiriman serta pemulangan para TKI/TKWI. Perlindungan inipun akan disempurnakan dengan perbaikan saluran diplomasi, pengawasan dan pengaturan yang sangat ketat npada perusahaan-perusahaan PJTKI yang nakal-nakal serta manipulatif, serta membangun lebih banyak pusat pelatihan yang diperlukan untuk persiapan mereka menghadapi dunia kerja di luar Indonesia.


Bukan Perempuan Biasa
Saya selalu terkesan saat jumpa Ibu Mega. Biasanya beliau memberikan senyum keibuan dengan kontak mata hangat sambil menyapa: “Bagaimana hari ini, sehat?” Sebuah sapaan sederhana namun sejuk.

Dimata saya Ibu Mega adalah sosok ibu yang feminin dan religius. Beberapa kali saya menjumpai beliau di jalan Teuku Umar saat baru selesai sholat. Pernah pada suatu saat saya menyaksikan beliau membuatkan tehnya sendiri untuk sang suami tercinta. Juga sebagai seorang Eyang Putri (sang cucu memanggil beliau dengan panggilan sayang Pupu untuk sang kakek dan Mumu untuk sang nenek) mendekap bahagia sang cucu didadanya sabari ketiduran disofa. Sebagai pencinta tanaman (beliau pernah mengenyam kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Pajajaran, Bandung), sekali saya menyaksikan beliau menyapa tanaman-tanaman koleksinya dipagi hari.



Sering terlintas dalam kepalaku akan rumitnya hidup seorang perempuan presiden. Alangkah berkurangnya kenikmatan hidup berwira-wiri dengan memakai kimono atau daster dirumah, sementara para pengawal atau ajudan selalu mengitari hampir disetiap langkah geraknya? Sementara seorang perempuan seperti saya, sepulang kerja dengan nikmat memakai masker pelembab wajah, obat jerawat, dan daster rumah kesayangan sembari mengangkat kaki disofa sambil bercanda dengan suami, anak-anak, serta ayah mertua yang kebetulan sekarang tinggal bersama kami dirumah. Menanyakan ini dan itu pada pembantu serta tukang masakku, juga supir kami yang tinggal dirumah. Semua itu saya lakukan tanpa beban, karena memang saya hanyalah perempuan biasa yang ibu rumah tangga tapi sekaligus berkegiatan diluar rumah. Hingga bilamana pada saat yang lain saya menyaksikan wajah Ibu Mega yang biasanya charming kemudian tampak kusut, pasti sesuatu yang besar sedang terjadi. Buat saya yang juga seorang perempuan, hal ini sangat-sangat manusiawi. Seperti halnya seorang ibu terhadap anak-anaknya, maka bila Ibu Mega tampak mengomel kepada anak-anaknya saat rapat internal partai, hal tersebut saya anggap sebagai sebuah ekspresi cinta tulus dari seorang ibu terhadap anak-anaknya karena ingin anak-anaknya tersebut maju dan siap bersaing didalam menghadapi sebuah dunia yang berisi pertarungan dahsyat. Karena jujur saja, saya mulai sangat faham dengan kondisi partai yang saya masuki ini ketika mereka menang dan tidak siap menjadi pemenang pada tahun 1999. Tapi itulah barangkali ujian tapi sekaligus kelebihan seorang perempuan pemimpin partai dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia, tetap menyambut optimis tongkat estafet yang diserahkan kepadanya untuk memimpin sebuah negeri besar dengan 217 juta penduduknya dalam kondisi sosial-ekonomi yang kocar-kacir saat ditinggal oleh beberapa pemimpin sebelumnya. Bila dalam penampilannya beliau—seperti halnya kita para ibu—tampak kesal, ada amarahnya sekali-kali, semua itu ada dalam koridor cinta.

Mewarisi Krisis Multidimensi
Ketika menerima mandate sebagai Presiden RI kelima untuk menggantikan Presiden Abdurrahman Wahid, Ibu Mega mewarisi krisis multidimensi yang telah berakar sebagai warisan dari era Orde Baru. Masih terbayang dibenak kita saat penghujung kejayaan Orba rakyat antri sembako, nilai tukar Rupiah melambung tak terkendali, pembumihangusan kota Jakarta, pembunuhan mahasiwa Trisakti, kasus Semanggi, serta ribuan orang hilang tak tentu rimbanya. Bahkan seorang suami sahabat saya (bintang film Eva Arnaz) turut hilang dengan isu dikremasi hidup-hidup di Cilincing. Kita semuapun masih teringat juga masih merasa trauma besar akan kasus serbuan serta pembunuhan yang terjadi di kantor PDI Perjuangan tanggal 27 Juli. Tapi itulah barangkali salah satu kelebihan dari seorang pemimpin perempuan bernama Megawati yang dengan takdir hidupnya serta ketangguhan (adversity quotion) membawanya pada puncak kepemimpinan negara kita tercinta Indonesia tanpa dilandasi dendam. Beliau mengawali kepemerintahannya dengan bahasa cinta dengan memakai unsur nur didalam Islam. Tak ada dendam, tak perlu membalas, karena yang utama adalah kerja keras untuk menyelamatkan bangsa dan negara tercinta Indonesia untuk hadir dengan harga diri yang tinggi dimata internasioanl serta dapat membanggakan anak cucu.


Bila didalam pemerintahan yang baru 2 tahun 10 bulan ini masih banyak masyarakat mencemooh akan hasil signifikan yang dibuat oleh Ibu Megawati dan tim kerjanya, tentunya karena hidup kita ini bukanlah panggung sandiwara yang dapat dengan mudah disulap dengan cara membalikkan telapak tangan. Dengan sudah mulai terurainya benang kusut yang melilit negeri ini, bantuan IMF yang saat lalu sangat diagungkan oleh kelompok Orba sudah dihentikan, ekonomi makro sudah mulai berdenyut, dan hal-hal positif lainnya mulai muncul, sesungguhnya tinggal kita memberikan kesempatan sekali lagi dalam lima tahun kedepan untuk Ibu Mega membereskan pekerjaan-pekerjaan rumahnya yang belum selesai demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil, makmur, berdaulat, aman dan bersih dari korupsi. Insya Allah demikian adanya.

Kontemplasi Marissa Haque Teman Saya di Atas Pesawat North West, Detroit, AS



Sumber: http://www.marissahaque-dulu-pdip.com/terbang/

Gagasan Terbang ke Angkasa Biru serta jendela yang berjejer banyak dari dalam pesawat saya angkat ke dalam situs ini sebagai sebuah ide dasar yang muncul saat saya sering melakukan perjalanan panjang pulang-pergi dari rumah di Bintaro, Jakarta Selatan menuju Athens, Ohio tempat saya menyelesaikan studi Master keduaku pada bidang studi Film dan Televisi di Ohio University, AS.

Saat matahari tenggelam, lalu terbit kembali, disusul oleh naiknya sang fajar yang disempurnakan oleh langit biru nan cerah membawa hati dan pikiranku melambung tinggi mengikuti arah bias sinarnya. Momen indah nan singkat ini tak pernah kubiarkan luput dari dzikir dan syukurku ke hadirat Nya. Sekaligus mengabadikannya ke dalam beberapa snap shots dengan menggunakan manual dan digital photo camera yang tak pernah tertinggal dalam tasku.

Pertimbangan lainnya mengapa tema Terbang ke Angkasa Biru ini saya pilih, karena saya selalu merasa terus berada dalam perjalanan panjang yang tak pernah henti. Persis seperti cakrawala tak bertepi di atas kepala saat berada di ketinggian ribuan mil diudara. Kehidupan manusia yang terus berterbangan menuju pusarannya di Atas Sana.

Langkah kehidupanku yang belum selesai, masih terasa panjang untuk disempurnakan. Seiring dengan penerbangan-penerbangan panjang yang kulalui tanpa rasa jemu. Penerbangan-penerbangan yang kuiringi dengan senyum ikhlas serta doa syukur yang tak pernah henti. Sambil menanti penerbangan panjang yang sesungguhnya, menuju muara Sang Kekasih Abadi.

Kontemplasi oleh: Marissa Haque Fawzi
Saat berada di pesawat North West, Detroit, 2003, Menuju Columbus, Ohio, Amerika Serikat.

Jumat, 07 Agustus 2009

Catatan Kontemplatif Marissa Haque Saudariku: Kecurangan Pilpres Dimulai dari Pilkada Banten 2006



Sumber:http://marissahaquefawzi.blog.friendster.com



Apakah Indonesia negara hukum?


Jelas tercantum didalam UUD 45 Pasal 1 ayat 3. Apakah hukum positif Indonesia mampu ditegakkan dengan adil, setara, serta tidak tebang pilih selama masa 6 kali Indonesia ganti Presiden? Masih menjadi tanda tanya besar untuk menjawabnya dengan baik dan benar. Apakah hukum di Indonesia mampu berdiri tegak tanpa campur tangan politik tingkat tinggi demi kepentingan politik jangka pendek semata selama ini? Hmmmm... agak sulit menjawab dengan Jujur tanpa merasa takut ditangkap Polisi karena dianggap telah melakukan delik pidana Pasal 310 dan 311 KUHP terkait dengan perlakukan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik.

Photo diatas ini adalah saksi sejarah disaat saya pertama kali pada tahun 2007 disaat melaporkan kasus pemakaian ijazah aspal (asli tapi palsu) yang diduga digunakan oleh Ratu Atut Chosiyah disaat mengikuti Pilkada Banten 2006 lalu. Bambang Hendarso yang ketika itu menjabat sebagai Kabareskrim dan berpangkat Irjenpol menerima saya dan rekan pengacara saya bernama Khairil Poloan, SH, MH dan Yulita, SH, MH, termasuk mbak RA. Menik Haryani Kodrat sekretarisku yang setia selama 16 tahun masa pengabdian ini.

Bertempat dikantor Kabareskrim diruang kerjanya, Bambang Hendarso beserta tim intelnya yang sangat lengkap tersebut mendengarkan paparan investigasi yang telah saya lakukan selama masa hampir dua tahun terkait dengan kejahatan pidana Pilkada dari Kertas Suara Palsu yang diduga dilakukan terkait dengan Inkopol di Banten (Induk Koperasi Polisi), intimidasi, dan... ijazah palsu Ratu Atut Chosiyah, SE yang 'diduga' diterbitkan oleh Universitas Borobudur, Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen, Kalimalang, Jakarta Timur.

Jajaran perwira tinggi Polri yang mendengarkan laporan saya tersebut diatas menjadi sebuah kemungkinkan atas jasa baik salah seorang 'Guru' Spiritual Bapak Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, MA bernama Habib Alkaff yang juga menjadi konsultas spiritual beberapa Pati (Perwira Tinggi) Polri lainnya. Habib Alkaff adalah yang memakai gamis putih dengan sorban hitam namun senang bersepatu boots ala militer, adalah seorang yang sangat ramah dan very helpful. Dia menganggap anak terhadap saya. Katanya anak perempuan Habib ada yang mirip dengan wajahku, sehingga rasa iba dan sayangnya muncul begitu melihat saya dan menyaksikan dari dekat bagaimana saya berjuang menjujurkan keadilan serta membingkai politik dengan hukum yang selama ini sangat liar di Indonesia. Dan menurut Habib katanya saya punya bakat menjadi Rabiah Al Adawiyah, yang ketika mendengar ungkapan tersebut saya malah menjadi tergelak lama tak dapat berhenti. Entah karena tiba-tiba saya menjadi ge'er atau entah karena merasa terharu atas sanjungan tersebut karena selama ini jarang sekali ada pihak yang berempati atau bahkan sekedar bersimpati terhadap apa yang sedang saya upayakan untuk dijujurkan demi Indonesia yang lebih baik dimasa depan.

Selain menemui Kabareskrim yang sekarang menjadi Kapolri, Habib Alkaff juga berbaik hati menemani saya dan tim lawyeruntuk melaporkan kasus Polisi Gadungan yang diduga dikirim oleh tim Atut didalam melakukan kontra intelijen didalam penyelidikan kasus dugaan ijazah palsu yang dipakainya pada saat mengikuti Pilkada Banten 2006 yang lalu itu kepada Kadiv Propam (Provost dan Keamanan). Yaitu Kepala Divisi yang dianggap sebagai Hakimnya para perwira Polri, atau biasa mereka sebut sendiri sebagai 'malaikat pencabut nyawa' ditubuh Polri. Nama kadiv Propam tersebut adalah Irjenpol Gordon Mogoot. Tampak didalam gambar diatas duduk disamping kanan Habib Alkaff dan diapit disebelah kirinya Kapolda Maluku Utara Bapak Brigjen Pol Mustafa (orang Madura) yang sedang beranjangsana dikantor Pak Gordon Mogoot.

Setelah beberapa kali melakukan pelaporan atas delik pidana dugaan ijazah palsu tersebut, kami para penjujur keadilan masih menaruh harapan tinggi kepada Polri untuk meletakkan Hak Citizen Law Suit kepada relnya yang benar sesuai dengan apa yang dijanjikan didalam UUD 45. Melaporkan hal-hal pidana yang seharusnya segera ditindaklanjuti. Karena para anggota Polri yang bekerja sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat seharusnya faham bahwa mereka digaji oleh pajak masyarakat yang dipotong dari penghasilan mereka. Nah, respon oknum petinggi Polri atas laporan dugaan ijazah palsu Ratu Atut Chosiyah, SE apakah secepat apa yang diharapkan oleh rakyat selama ini?

Allahu Akbar! Dari sana saya sudah mulai dapat mencium gelagat akan sulitnya investigasi/penyelidikan yang akan saya lakukan kedepannya. Karena, bagaimana mungkin saya akan mudah menginteli intel polisi yang melakukan kejahatan pendidikan kalau yang saya invenstigasi justru termasuk salah satu pelaku aktif delik pidana tersebut?

Sampai hari ini saya belum pernah menyatakan menyerah atas konsprirasi dari kejahatan delik pidana pendidikan yang 'diduga' dilakukan Ratu Atut Chosiyah, SE dan Universitas Borobudur, Kalimalang, Jakarta Timur. Saya yakin, demi mendapatkan simpati yang lebih besar dari rakyat yang sebagian sudah mulai merasa lelah dengan kekurangtegasan Presiden SBY didalam 5 tahun masa pemerintahannya dan terkesan 'takut' terhadap partai yang membesarkan Rt Atut Chosiyah, SE, akan melakukan juklak dan juknis kepada Mendiknas dan Kapolri (yang dahulunya adalah Kabareskrim yang pertama kali menerima laporan saya atas citizen law suit terhadap pidana pendidikan ijazah palsu yang 'diduga' dilakukan oleh Rt Atut Chosiyah, SE disaat mengikuti Pilkada Banten 2006 lalu) sebagai delik pidana kebohongan publik untuk mendapatkan posisi birokrasi yang terncam oleh Pasal KUHP dan UU Sisdiknas.

Allahu Akbar! Allah tidak tidur... saya yakini cepat atau lambat ‘dugaan' kasus pidana ijazah palsu Ratu Atut Chosiyah, SE dari Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen, Kalimalang, Jakarta Timur akan terungkap dan seluruh stakeholders delik pidana yang terkait akan dimintakan pertangungjawabannya didepan publik. Bila Presiden SBY ingin terpilih lagi oleh rakyat pada Pipres 2009 didepan, saya yakini hati bersih beliau tentunya akan digerakkan oleh Kebenaran-Nya dan bersegera mengeluarkan Keppres baru dan membatalkan Keppres lama terkait dengan pembereskan kasus delik pidana Ratu Atut Chosiyah, SE yang diduga telah mencoreng dunia pendidikan Indonesia.

Saya kasihan pada pendidikan Indonesia kita, saya kasihan pada rakyat Banten, dan saya sejujurkan saya juga kasihan kepada Ratu Atut Chosiyah, SE yang semakin lama semakin bertambah besar kebohongannya demi untuk menutupi delik pidana yang ‘diduga'selama ini telah dilakukannya bersama-sama dengan Universitas Borobudur yang telah mengeluarkan ijazah SE untuknya. Innalillahi wa innailaihi rojiuuunnnn... semoga Allah SWT terus melindungi kita semua dari murka-Nya.